Stand Up, Be Brave and Say Stop to Violence Against Women!
The UN Declaration on the Elimination of Violence Against Women states that:
"violence against women is a manifestation of historically unequal power relations between men and women" and that "violence against women is one of the crucial social mechanisms by which women are forced into a subordinate position compared with men" - sumber Wikipedia
Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan:
Kekerasan terhadap perempuan adalah Segala bentuk kekerasan berbasis gender yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan-penderitaan pada perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam lingkungan kehidupan pribadi.
***
***
Pengalama pertama saya mengenal kekerasan pada perempuan berasal dari orangtua saya sendiri. Awalnya hanya pertengkaran secara verbal, ditambah benda-benda melayang seperti piring/toples terbang, yang lama kelamaan meningkat menjadi kekerasan secara fisik pada nyokap.
Dulu sih saya ngga ngerti ada kejadian apaan, yg saya tau tiap pulang dari sekolah rumah berantakan, kopi, gula, piring, baju-baju Mamih semua bertebaran dimana-mana. Kemudian, pertengkaran yang terjadi semakin intens, setiap malam pasti nyokap-bokap berantem dengan suara kenceng, marah-marah ngga jelas dan penuh tangisan (saya sih yang nangis), biasanya kalau kayak gini saya & kakak-kakak berkumpul disatu kamar, sambil nutup kuping, soalnya takut.. Biasanya yang ikutan melerai kakak #1, tapinya ngga ngaruh juga sih... Pagi-pagi, mamih tetap berangkat kerja, dan bokap ngga tau deh kemana. Saya udah biasa naik bis sendiri ke sekolah - iyaaa, dari kelas 4 SD saya biasa naik bis sendiri ke sekolah yang lumayan agak jauh dari rumah - jadi ngga perlu ada yang nganter lagi.
Suatu pagi saya sempat ngintip nyokap kesulitan pake baju untuk ke kantor, dan dibantu sama Kakak #1, saya lihat punggung nyokap lebam-lebam sehingga beliau kesakitan dan kesulitan untuk memakai baju. Waktu itu saya belum tau, saya belum mengerti... Sekarang, rasanya sedih mengenang semua itu... So sad right..? Seorang Istri, Ibu dari anak-anak diperlakukan sedemikian rupa oleh suami yang seharusnya menjaga, dan melindungi sang istri hingga akhir hayat.. Apakah, suami tersebut lupa, setelah ijab qobul/akad nikah, dia membaca janji Sighat Ta’lik yang intinya berjanji dengan sesungguh hati bahwa suami akan mempergauli istrinya dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam. Tidak akan meninggalkan istri, dan menyakiti badan atau jasmani istrinya di depan penghulu, para wali nikah, dan Allah. Apakah saat menyakiti istrinya sang suami lupa akan janji-janjinya?
Long short story, pengalaman ini berakhir ketika nyokap berpisah dari bokap...
Baca: Please Stop Call Me Broken Home Product
Tapi ternyata pengalaman ke dua saya tentang kekerasan pada perempuan sekarang justru dialami sendiri secara langsung.
Karena perpisahan orang tua, saya tumbuh menjadi seorang yang sangat tidak percaya diri. Ntah kenapa saya selalu mengangap diri saya lebih jelek, lebih bodoh, dan tidak pernah lebih baik dari orang lain. Ketika orang yang saya taksir ternyata juga menyukai saya, waaah saat itu dunia saya menjadi hanya untuk dirinya seorang tanpa dirinya saya bukan apa-apa.. (kurang percaya diri emang mengakibatkan kebodohan dan tidak menghargai diri sendiri dengan baik sehinga semua keputusan yang diambil hanya berdasarkan kebahagiaan untuk orang tertentu semata - imho)
Orang tersebut menjadi my center of attention and attraction, pokoknya saya jatuh cinta & jatuh hati sama dia sampai semua yang dia inginkan adalah perintah yang harus, wajib, kudu saya patuhi. Saya melupakan teman (karena saya ngga boleh main sama teman-teman saya), saya pun jauh dari keluarga (karena saya kerja ke Jakarta setelah kuliah demi dekat dengan dia).
Secara tidak sadar saya menderita secara psikologis, meski fisik saya baik-baik saja. Saya merasa ketakutan kalau tidak menyetujui semua perkataan dia. Semua gaya baju, bicara, dandan, dan semuanya diatur sesuai undang-undang yang dia berlakukan. Rambut saya harus panjang terurai, ngga boleh pendek, ngga boleh diikat, kalau rambut saya ikat, saya disebut mirip mbok-mbok, dan ketika saya potong pendek rambut, saya dibilang seperti pembantu, dan saya tidak boleh mengenakan hijab.. :(
Tapiiii, karena dulu namanya juga cinta, tahi ayam serasa coklat, saya ngga pernah mempermasalahkan hal itu. Padahal ternyata, itu sudah termasuk kekerasan terhadap perempuan secara verbal. Sampai akhirnya pada satu titik terjadi kekerasa fisik gara-gara hal sepele banget... Saya pengen cepat-cepat pulang karena pengen nonton Meteor Garden (hahaha Toming Se maaan), tapi dia ngga memperbolehkan karena masih pengen jalan-jalan. Didepan kosan saya didorong beberapa kali sampai terbentur pintu mobil, tas saya direbut sampai robek (bayangkan kekuatannya, tas aja sampe robek berhamburan...) dan bekas dorongannya itu menimbulkan lebam-lebam di lengan atas saya...
Meski begitu, saya tetap memaafkan dan dia berdalih, dorongannya waktu itu ngga keras kok.. (kalau ngga keras kenapa sampe lebam-lebam yak? #tanyakenapa). Ketika orang-orang kantor bertanya kenapa lengan saya lebam, saya cuman bilang keserempet metromini.. Yess, segitu saya ngebelain dia dan ngga mau kalau orang-orang tau kalau dia yang melakukan hal itu.
Suatu hari, saya lagi main-main ke tempat teman dan ngobrol sama Ibunya tentang keluarga, pernikahan, dan lain-lain. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba beliau bilang sama saya: "Cowo itu harusnya menjaga cewenya, sekali dia mukul, akan terus mukul tanpa disadari. Kalau masih pacaran aja udah mukul, apalagi nanti setelah nikah?"
Disitu saya seperti tersadar, padahal saya ngga cerita apa-apa sama beliau, kok bisa tau ya..
Trus beliau juga bilang: "Kalau kita berani, ngga akan ada cowo yang berani mukul kita. Kalau dia pukul, balas pukul biar dia tau kalau kita ngga takut! Meskipun pasti tenaga mereka lebih kuat, tapi lawan, jangan diam aja"
Ketika akhirnya cowo yang saya idolakan ketahuan selingkuh, disitu saya berani nampar dia hahaha.. #eh meskipun akhirnya saya balik dianiaya sama dia.. But I make a statement that day, you cannot hurt me anymore.. Loe.. Gueh.. End! (yaiyalah masa udah digituin masih tetep mau sama dia.. duh rugi).
Baca: If I Could Turn Back the Hand of Time
Pengalaman pertama dan kedua mengenai kekerasan terhadap perempuan alhamdulillah membuat saya lebih kuat dan menjadi individu yang jutek seperti sekarang ini hahahahaha.
Tapi sayangnya, ternyata masih ada eman-teman saya yang mengalami kekerasan saat pacaran dan ketika rumah tangga :( Rasanya sedih ketika ada teman yang memberitahu saya bahwa hidungnya patah, kepala bocor, leher lebam, tangan patah karena kekerasan suaminya... Belum lagi trauma yang dirasakan oleh anak-anaknya karena melihat Ibu mereka dianiaya oleh Bapaknya, saya jadi flash back ke jaman saya kecil dulu.
Sulitnya nasihat apapun yang saya berikan selalu termentahkan, karena teman saya memikirkan anak-anaknya. Sulit melepaskan diri dari suami karena anak-anak masih sekolah dan alasan-alasan lain.
Saya jadi ingat sama nyokap dulu, pantas saja beliau meninggalkan kami dan pindah rumah, karena beliau harus menyelamatkan dirinya dulu daripada mendapatkan perlakukan seperti itu terus. "Nyawa Mamih harus diselamatkan dulu, baru Mamih nyelamatin kalian.. Mamih tau Bapak kalian ngga akan mukulin anak-anaknya" begitu ujarnya dulu.. Terbukti setelah nyokap memiliki tempat tinggal dan terasa aman untuk anak-anak, kami semua diboyong dan pindah tinggal bersama nyokap. Mungkin keputusan ini menurut orang lain tidak ideal, tapi keselamatan nyokap harus diutamakan, karena siapa yang akan melindungi anak-anak nanti, apabila nyokap ngga selamat...
So please, tulisan ini saya tujukan untuk teman tersayang yang sedang melewati masa-masa tidak menyenangkan dalam hidupnya. Saya tahu kamu kuat, menahan pukulan-pukulan yang dilayangkan padamu, tapi seberapa kuat tubuh itu akan menerimannya? Seberapa lama anak-anak harus melihat Ibunya berdarah-darah dan terkapar lemah? Saya mohon, stand up, be brave dan katakan stop pada kekerasan yang kamu alami...
Dukungan teman dan keluarga tentunya akan sangat berarti untukmu, jangan hanya diam, bicaralah, beranikan dirimu, seorang suami yang menyayangi dan menghargai perempuan tidak akan pernah menyakiti istrinya seujung jaripun, apalagi jika dia mengingat bahwa dia dilahirkan dari rahim Ibunya yang perempuan, dan rahimmu telah melahirkan anak-anak cantik yang juga perempuan..
Kekerasan dalam rumah tangga bukan masalah kecil, tolong dirimu sendiri... Apabila kamu butuh bantuan, kamu bisa menelepon KOMNAS Perempuan 021-3903963 atau email mail@komnasperempuan.go.id atau kamu mau aku yang telepon pun bisa, tapi tolong, enough is enough...
To my dearest friend...
Please help us to help you..
Dulu sih saya ngga ngerti ada kejadian apaan, yg saya tau tiap pulang dari sekolah rumah berantakan, kopi, gula, piring, baju-baju Mamih semua bertebaran dimana-mana. Kemudian, pertengkaran yang terjadi semakin intens, setiap malam pasti nyokap-bokap berantem dengan suara kenceng, marah-marah ngga jelas dan penuh tangisan (saya sih yang nangis), biasanya kalau kayak gini saya & kakak-kakak berkumpul disatu kamar, sambil nutup kuping, soalnya takut.. Biasanya yang ikutan melerai kakak #1, tapinya ngga ngaruh juga sih... Pagi-pagi, mamih tetap berangkat kerja, dan bokap ngga tau deh kemana. Saya udah biasa naik bis sendiri ke sekolah - iyaaa, dari kelas 4 SD saya biasa naik bis sendiri ke sekolah yang lumayan agak jauh dari rumah - jadi ngga perlu ada yang nganter lagi.
Suatu pagi saya sempat ngintip nyokap kesulitan pake baju untuk ke kantor, dan dibantu sama Kakak #1, saya lihat punggung nyokap lebam-lebam sehingga beliau kesakitan dan kesulitan untuk memakai baju. Waktu itu saya belum tau, saya belum mengerti... Sekarang, rasanya sedih mengenang semua itu... So sad right..? Seorang Istri, Ibu dari anak-anak diperlakukan sedemikian rupa oleh suami yang seharusnya menjaga, dan melindungi sang istri hingga akhir hayat.. Apakah, suami tersebut lupa, setelah ijab qobul/akad nikah, dia membaca janji Sighat Ta’lik yang intinya berjanji dengan sesungguh hati bahwa suami akan mempergauli istrinya dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam. Tidak akan meninggalkan istri, dan menyakiti badan atau jasmani istrinya di depan penghulu, para wali nikah, dan Allah. Apakah saat menyakiti istrinya sang suami lupa akan janji-janjinya?
Long short story, pengalaman ini berakhir ketika nyokap berpisah dari bokap...
Baca: Please Stop Call Me Broken Home Product
Tapi ternyata pengalaman ke dua saya tentang kekerasan pada perempuan sekarang justru dialami sendiri secara langsung.
Karena perpisahan orang tua, saya tumbuh menjadi seorang yang sangat tidak percaya diri. Ntah kenapa saya selalu mengangap diri saya lebih jelek, lebih bodoh, dan tidak pernah lebih baik dari orang lain. Ketika orang yang saya taksir ternyata juga menyukai saya, waaah saat itu dunia saya menjadi hanya untuk dirinya seorang tanpa dirinya saya bukan apa-apa.. (kurang percaya diri emang mengakibatkan kebodohan dan tidak menghargai diri sendiri dengan baik sehinga semua keputusan yang diambil hanya berdasarkan kebahagiaan untuk orang tertentu semata - imho)
Orang tersebut menjadi my center of attention and attraction, pokoknya saya jatuh cinta & jatuh hati sama dia sampai semua yang dia inginkan adalah perintah yang harus, wajib, kudu saya patuhi. Saya melupakan teman (karena saya ngga boleh main sama teman-teman saya), saya pun jauh dari keluarga (karena saya kerja ke Jakarta setelah kuliah demi dekat dengan dia).
Secara tidak sadar saya menderita secara psikologis, meski fisik saya baik-baik saja. Saya merasa ketakutan kalau tidak menyetujui semua perkataan dia. Semua gaya baju, bicara, dandan, dan semuanya diatur sesuai undang-undang yang dia berlakukan. Rambut saya harus panjang terurai, ngga boleh pendek, ngga boleh diikat, kalau rambut saya ikat, saya disebut mirip mbok-mbok, dan ketika saya potong pendek rambut, saya dibilang seperti pembantu, dan saya tidak boleh mengenakan hijab.. :(
Tapiiii, karena dulu namanya juga cinta, tahi ayam serasa coklat, saya ngga pernah mempermasalahkan hal itu. Padahal ternyata, itu sudah termasuk kekerasan terhadap perempuan secara verbal. Sampai akhirnya pada satu titik terjadi kekerasa fisik gara-gara hal sepele banget... Saya pengen cepat-cepat pulang karena pengen nonton Meteor Garden (hahaha Toming Se maaan), tapi dia ngga memperbolehkan karena masih pengen jalan-jalan. Didepan kosan saya didorong beberapa kali sampai terbentur pintu mobil, tas saya direbut sampai robek (bayangkan kekuatannya, tas aja sampe robek berhamburan...) dan bekas dorongannya itu menimbulkan lebam-lebam di lengan atas saya...
Meski begitu, saya tetap memaafkan dan dia berdalih, dorongannya waktu itu ngga keras kok.. (kalau ngga keras kenapa sampe lebam-lebam yak? #tanyakenapa). Ketika orang-orang kantor bertanya kenapa lengan saya lebam, saya cuman bilang keserempet metromini.. Yess, segitu saya ngebelain dia dan ngga mau kalau orang-orang tau kalau dia yang melakukan hal itu.
Suatu hari, saya lagi main-main ke tempat teman dan ngobrol sama Ibunya tentang keluarga, pernikahan, dan lain-lain. Entah dari mana awalnya, tiba-tiba beliau bilang sama saya: "Cowo itu harusnya menjaga cewenya, sekali dia mukul, akan terus mukul tanpa disadari. Kalau masih pacaran aja udah mukul, apalagi nanti setelah nikah?"
Disitu saya seperti tersadar, padahal saya ngga cerita apa-apa sama beliau, kok bisa tau ya..
Trus beliau juga bilang: "Kalau kita berani, ngga akan ada cowo yang berani mukul kita. Kalau dia pukul, balas pukul biar dia tau kalau kita ngga takut! Meskipun pasti tenaga mereka lebih kuat, tapi lawan, jangan diam aja"
Ketika akhirnya cowo yang saya idolakan ketahuan selingkuh, disitu saya berani nampar dia hahaha.. #eh meskipun akhirnya saya balik dianiaya sama dia.. But I make a statement that day, you cannot hurt me anymore.. Loe.. Gueh.. End! (yaiyalah masa udah digituin masih tetep mau sama dia.. duh rugi).
Baca: If I Could Turn Back the Hand of Time
Pengalaman pertama dan kedua mengenai kekerasan terhadap perempuan alhamdulillah membuat saya lebih kuat dan menjadi individu yang jutek seperti sekarang ini hahahahaha.
Tapi sayangnya, ternyata masih ada eman-teman saya yang mengalami kekerasan saat pacaran dan ketika rumah tangga :( Rasanya sedih ketika ada teman yang memberitahu saya bahwa hidungnya patah, kepala bocor, leher lebam, tangan patah karena kekerasan suaminya... Belum lagi trauma yang dirasakan oleh anak-anaknya karena melihat Ibu mereka dianiaya oleh Bapaknya, saya jadi flash back ke jaman saya kecil dulu.
Sulitnya nasihat apapun yang saya berikan selalu termentahkan, karena teman saya memikirkan anak-anaknya. Sulit melepaskan diri dari suami karena anak-anak masih sekolah dan alasan-alasan lain.
Saya jadi ingat sama nyokap dulu, pantas saja beliau meninggalkan kami dan pindah rumah, karena beliau harus menyelamatkan dirinya dulu daripada mendapatkan perlakukan seperti itu terus. "Nyawa Mamih harus diselamatkan dulu, baru Mamih nyelamatin kalian.. Mamih tau Bapak kalian ngga akan mukulin anak-anaknya" begitu ujarnya dulu.. Terbukti setelah nyokap memiliki tempat tinggal dan terasa aman untuk anak-anak, kami semua diboyong dan pindah tinggal bersama nyokap. Mungkin keputusan ini menurut orang lain tidak ideal, tapi keselamatan nyokap harus diutamakan, karena siapa yang akan melindungi anak-anak nanti, apabila nyokap ngga selamat...
So please, tulisan ini saya tujukan untuk teman tersayang yang sedang melewati masa-masa tidak menyenangkan dalam hidupnya. Saya tahu kamu kuat, menahan pukulan-pukulan yang dilayangkan padamu, tapi seberapa kuat tubuh itu akan menerimannya? Seberapa lama anak-anak harus melihat Ibunya berdarah-darah dan terkapar lemah? Saya mohon, stand up, be brave dan katakan stop pada kekerasan yang kamu alami...
Dukungan teman dan keluarga tentunya akan sangat berarti untukmu, jangan hanya diam, bicaralah, beranikan dirimu, seorang suami yang menyayangi dan menghargai perempuan tidak akan pernah menyakiti istrinya seujung jaripun, apalagi jika dia mengingat bahwa dia dilahirkan dari rahim Ibunya yang perempuan, dan rahimmu telah melahirkan anak-anak cantik yang juga perempuan..
Kekerasan dalam rumah tangga bukan masalah kecil, tolong dirimu sendiri... Apabila kamu butuh bantuan, kamu bisa menelepon KOMNAS Perempuan 021-3903963 atau email mail@komnasperempuan.go.id atau kamu mau aku yang telepon pun bisa, tapi tolong, enough is enough...
To my dearest friend...
Please help us to help you..



